Rekomendasi

ads header

Baru

Darimana Datangnya Gagasan Bahwa Yesus Adalah Anak Tuhan?


Gagasan itu berasal dari kepercayaan kaum pagan, atau para  penyembah berhala, bahwa Tuhan beranak pinak di bumi. 

Di berbagai wilayah dan kota-kota besar dalam wilayah dominasi kerajaan Romawi di luar Palestina, orang-orang menyembah “Tuhan beserta keluarganya”, 

Mulai dari Tuhan tiga sampai ratusan. Mereka menganggap bahwa setiap tindakan Tuhan menjadi oknum lain di samping Tuhan. Misalnya firman Tuhan menjadi oknum lain (Anak Allah) yang namanya Yesus. Tindakan Tuhan memberi hidup, menjadi oknum lain yang namanya Roh Kudus dlsb.

Siapa pencetus ide Anak Allah?
Ide Anak Tuhan merupakan hal yang lumrah di masyarakat Yahudi. Mereka menganggap bahwa bangsa Israel adalah “Anak-anak Tuhan”. Bagi mereka istilah “Anak Tuhan” bukan untuk individu. “Anak-anak Tuhan” dalam pengertian individu merupakan paham penyembah berhala yang menganggap bahwa Tuhan beranak di dunia. (Tillich 1968)

Paulus yang menganggap Yesus lahir melalui intervensi Roh Kudus, memperkenalkannya kepada para penyembah berhala di kerajaan Romawi sebagai “Anak Tuhan (Allah)”.

[Lukas 1:35] “Jawab malaikat itu kepadanya: `Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah” 

[Kisah Para Rasul 9:20] “Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah” 

Pekerjaan Paulus yang mulai merusak ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus ini dikutuk oleh Allah dalam surah Maryam:88-92:

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munqkar. Hampir-hampir lagit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yanq Pemurah mempunyai anak” (QS. Maryam:88-92)

Apa arti Anak Tunggal Allah?
Umat Kristen dengan bangga menjelaskan bahwa Yesus diperanakkan bukan dicipta. Menurut mereka, semua mahluk dicipta oleh Tuhan, demikian pula Nabi Adam. Tetapi Yesus lahir dari intervensi Roh Kudus yang datang menaungi perawan Maria sehingga hamil. Dari berbagai legenda, Tuhan menghamili seorang perempuan hanya sekali, sehingga disetiap zaman hanya ada seorang Anak Tuhan (anak tunggal).

[Lukas 1:35]. “Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah” 

Apakah anak Allah setara dengan Allah?
Dalam filsafat Yunani, kedudukan Anak Tuhan dan dewa-dewa lainnya lebih rendah dari Tuhan. Sesuai ajaran filsafat Yunani, ketika Tuhan yang suci tidak dapat berhubungan dan menyelamatkan dunia serta manusia yang berdosa, dia mengirim anaknya atau dewa lain untuk mengatasi persoalan di dunia. 

Tapi rupanya Paulus dan para kroninya yang dari generasi ke generasi menjadi petinggi Gereja ingin "menaikkan" kedudukan Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) setara dengan Bapa atau Tuhan itu sendiri. Dan ini, tentu saja, menghadapi berbagai kendala, sebab manalah mungkin hal itu dapat diterima oleh akal manusia waras?

Kenapa?

Pertama, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, sehingga secara otomatis Bapa memiliki kekuasaan untuk memerintah Anak, sedangkan Anak tiadak punya kuasa untuk memerintah Bapa.

Kedua, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, maka jelas ada suatu saat dimana Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. Jika kedua-duanya sama-sama ada, tentu tidak ada Bapa dan Anak, bukan?

[Kisah Para Rasul 13:33] “….AnakKu Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini”. 

Ayat di atas memperlihatkan bahwa kemarin Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. 

Ketiga, karena para pemimpin Gereja mengatakan bahwa Bapa 100% Tuhan, sedangkan Anak (Yesus) adalah 100% Tuhan dan sekaligus 100% manusia, maka tentu saja keduanya tidak sama, apalagi setara.

Jadi, keyakinan umat kristen yang mengira Yesus adalah tuhan karena ucapannya "aku dan bapa adalah satu", jelas tidak dapat diterima!

Jelas ya?

[Belajar dari catatan mbak Yusni | Di Bawah Panji Panji Islam]


Baca Juga

Tidak ada komentar